Pandemi Pejabat Peraturan


Sudah berjalan hampir 3 bulan sejak Covid-19 mewabahi indonesia pada awal maret silam. Saat tulisan ini dibuat kasus positif Covid-19 masih belum menunjukan penurunan yang signifikan di beberapa daerah. Data terakhir per tanggal 19/5/2020 yang dimana kasus positif Covid-19 berjumlah 18.496, dengan jumlah pasien pulih sebesar 4.467, serta jumlah kematian akibat Covid-19 sebesar 1.221.  Di prediksi jumlah akan masih terus meningkat sampai akhir bulan Mei menurut para Ahli epidemiologi.

Sejumlah langkah dan upaya sudah dilakukan oleh pemerintah demi menekan kurva laju penyebaran Covid-19 ini. Saya apresiasi itu dan menaati anjuran dari pemerintah untuk tetap selalu berada di rumah agar semuanya cepat berlalu. Tapi mohon maaf, saya tetap menilai pemerintah lalai dan terkesan tidak jelas serta tegas dalam memerangi bencana non-alam ini.

Tidak hanya pemerintah. Sebagian masyarakat indonesia juga terkesan "bodo amat" dengan Covid-19. Sehingga rasanya sia-sia bagi kita yang menaati PSBB. Untuk apa kita dirumah hampir selama dua bulan kalau mereka tetap santuy kumpul-kumpul bareng teman di mall?. Untuk apa kita berjuang selama 8 jam merawat pasien positif Covid-19 dengan menggunakan APD kalau ujung-ujungnya relaksasi PSBB?. Untuk apa kita berdagang dengan protokol kesehatan kalau nyatanya dipaksa untuk tutup?. Untuk apa kita berharap kalau kenyataanya harapan itu palsu?. Dan keresahan-keresahan lainnya yang mungkin dialami oleh sebagian orang termasuk saya. 

Meski begitu kita tidak boleh pesimis. Kita harus tetap jaga kesehatan, jaga jarak, pakai masker dan tetap dirumah. Semuanya tetap kita harus lakukan agar kondisi ini bisa kembali normal dengan cepat. Seperti yang di inginkan oleh semua orang termasuk para pedagang-pedagang kecil yang belakangan tokonya ditutup paksa oleh pak satpol.

Untuk sekedar mengingatkan. Berikut catatan peristiwa yang saya rangkum ketika pandemi Covid-19 mewabah di indonesia. Saya ambil dari beberapa sumber website berita yang kemudian mengurutkannya berdasarkan bulan saat berita itu di publish. 

1. JANUARI
Pada 21 januari kasus positif Covid-19 diluar cina dilaporkan terjadi di Negara Jepang, Korea selatan dan Thailand. Kemudian WHO meminta seluruh negara waspada akan potensi penyabaran Covid-19 melalui bandara dan pelabuhan. Bagaimana respon pemerintah indonesia?.

Di hari yang sama pemerintah indonesia merespon dengan persiapan alat pemindai suhu tubuh sebagaimana yang direkomendasikan WHO pada saat itu. "Karena salah satu gejalanya adalah panas, gangguan pernapasan, yang paling awal yang bisa dideteksi adalah dengan thermal scan," itu kata bapak Anung sugihantono yang menjabat sebagai  Direktur jenderal pencegahan dan pengendalian penyakit dikutip dari laman BBC indonesia pada tanggal 21/01/2020.

Pada saat itu juga keadaan masih normal. Bandara masih menerima penerbangan dari dalam dan luar indonesia, Restoran masih buka seperti biasanya, Ojol masih meneriman tumpangan, kamu masih bisa  jalan-jalan di mall tanpa masker bareng pacar, pedagang masih tenang berdagang tanpa harus takut ditutup paksa sama bapak satpol. Pokoknya semua masih berjalan normal tanpa ada yang harus ditakuti pada saat itu.

Sampai pada 23 januari yang tepatnya pada hari kamis situasi di kota Wuhan, Cina semakin mengkhawatirkan sehingga pemerintah Cina memutuskan mengambil opsi lockdown di kota tersebut. Opsi lockdown tersebut secara tidak langsung mengindikasikan Covid-19 bukanlah virus flu biasa, yang juga sekaligus membuat negara lain semakin waspada. Gimana respon pemerintah kita pada saat itu? Apakah semakin waspada? Atau "B" aja?.

Respon pemerintah indonesia dijawab oleh bapak presiden Jokowi melalui akun instagram @jokowi, beliau mengatakan "Beberapa negara di kawasan Asia Tenggara telah mengkonfirmasi masuknya
virus korona. Namun, sejauh ini, belum
terdapat indikasi menyebarnya virus
tersebut di Indonesia," dikutip dari website berita voi.id pada tanggal 27/01/2020.

Meski negara tetangga sudah melaporkan kasus positif pertamanya. Namun, pemerintah tetap yakin Covid-19 belum masuk ke indonesia karena sudah melakukan langkah antisipasi pengecekan suhu tubuh di sejumlah pintu masuk melalui udara maupun laut. Dengan kata lain indonesia masih aman, santuy dan enjoy dari Covid-19 ketimbang negara lain. Tiga hari berselang setelah pernyataan bapak jokowi, tepatnya pada 30 januari WHO mendeklarasikan status gawat darurat untuk wabah Covid-19. Dan seharusnya bapak-bapak pemerintah sudah mulai waspada saat itu, tapi yaa sudahlah, lanjut bulan berikutnya.

2.FEBRUARI
Pada bulan ini kasus positif Covid-19 di Cina dan di beberapa negara lain yang telah terdampak semakin meningkat. Penyebarannya pun semakin meluas di seluruh dunia. Meski begitu respon bapak-bapak pemerintah yang berkepentingan malah semakin absurd di bulan ini. 

Seperti candaan bapak Dewan Ribka Tjiptaning saat rapat kerja bareng bapak Menkes Terawan. Beliau mengatakan, "Itu tadi dijabarkan sama ahli paru itu di Metro TV, kalau enggak salah, saya lihat. Ini lebih bahaya MERS dan SARS, dibanding itu, daripada si corona. Kecuali komunitas rondo memesona. Bahaya itu penghuni 'korona'-nya itu, sebab hati-hati itu, ya kan," kata Ribka yang disambut tawa para peserta rapat, dilansir Warta Ekonomi pada tanggal 3/2/2020.

Bukannya memberikan kewaspadaan si bapak dewan malah plesetin Corona. The best emang kalau soal guyonan si bapak dewan. Pokoknya kompor gas buat si bapak Ribka dengan guyonannya.

Beberapa hari berselang setelah pernyataan absurd dari bapak dewan. Seorang WNI di singapura dikabarkan positif Covid-19. Yang kemudian Havard melalui studi jurnalnya menyampaikan bahwa pada hari itu seharusnya indonesia sudah melaporkan kasus positif pertamannya. dilansir dari situs medrixv.org pada tanggal 5/2/2020. Dan apa respon pemerintah pada saat itu setelah universitas sekelas Havard membeberkan hasil temuanya?

Yapp betul. Pemerintah membantahnya. Bahkan Havard ditantang oleh Bapak Menkes Terawan untuk membuktikan secara langsung hasil temuannya. Beliau berucap, "Ya, Harvard suruh ke sini. Saya suruh buka pintunya untuk melihat. Tidak ada barang yang ditutupi," begitu kata Terawan, dikutip dari CNN Indonesia pada tanggal 11/2/2020.

WHO pun menyarankan agar indonesia menutup penerbangan dari dan menuju cina. Pemerintah indonesia akhirnya meresmikan penutupan penerbangan tersebut sesuai yang disarankan WHO pada tanggal 5/2/2020.  meski sudah ditutup, pemerintah indonesia tetap kecolongan sebanyak 811 warga cina yang masuk ke indonesia sejak diberlakukannya penutupan tersebut. Dikutip dari situs berita telisik.id pada tanggal 3/3/2020.

Beberapa hari berselang, bapak pemerintahan kembali bercanda soal Covid-19. Candaan tersebut di ucapkan oleh bapak Menko kemaritiman dan investasi. Siapa lagi kalau bukan idola kita semua yaitu; Bapak Luhut binsar pandjaitan yang terhormat. Beliau pada saat itu bertitah kepada wartawan soal dugaan Corona di batam. Bapak Luhut menjawab, "(Corona masuk Batam?) Hah? Mobil Corona?" katanya, ditulis di Detik.com pada tanggal 10/2/2020.

Hmm lucu sih, tapi yaa skip aja dehh kalau Bapak Luhut yang bercanda. Pokoknya apa aja yang di omongin Pak Luhut, pasti kita semua seneng kok pak. Hehe.

Hari demi hari di bulan februari indonesia masih normal seperti biasanya. Pada saat itu Covid-19 bagaikan mitos bagi sebagian masyarakat indonesia. Tidak sedikit pula, ada masyarakat yang percaya akan keberadaan si Covid-19 ini. Namun sayang, kepercayaannya dinodai dengan menimbun masker dan Hand sanitizer demi memuaskan nafsu kapitalisnya. Tapi belakangan mereka menyesali perbuatannya. 

Pada tanggal 17 februari ada candaan lagi yang keluar dari mulut bapak pejabat kementerian. Setelah Pak luhut bertitah, terbitlah kelakar Pak Budi Karya Sumadi. Beliau menjabat sebagai Menteri Perhubungan. "Tapi (ini) guyonan sama Pak Presiden, ya. Insyaallah, ya, (virus) COVID-19 tidak masuk ke Indonesia karena setiap hari kita makan nasi kucing, jadi kebal," Kata Pak Menhub. Dikutip dari situs berita Republika pada tanggal 17/2/2020. 

Apesnya satu bulan kemudian beliau dinyatakan postif Covid-19 tepatnya pada tanggal 16/3/2020, mungkin Pak Menhub pada saat itu lupa makan nasi kucing jadi menyebabkan kekebalan tubuh beliau berkurang atau mungkin itu hukum karma yang selama ini kita percayai ada sekitar kita. Ahh sudahlah, lagian Bapak Menhub sudah sembuh kok. Sehat terus yaa Pak!, Semoga bapak engga kapok bercanda lagi. Hehe.

Ada satu lagi bapak pejabat dengan candaanya yang kompor gas. Beliau adalah Bapak Bahlil Lahadalia yang menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). saat itu beliau bercanda bahwa "Sampai katanya virus korona enggak masuk ke Indonesia karena izinnya susah," di kutip dari situs berita okezone.com pada tanggal 24/2/2020.

Dikira Covid-19 merek Hp kali yaa. Engga salah sih beliau bercanda. Tapi yaa engga pas wawancara juga pak. Sebagai pejabat ketika sedang di wawancara seharusnya bapak mengedukasi pada saat itu. Bukan malah ikut-ikutan menyepelekan!. 

Lanjut ke pertengahan bulan februari. Dimana terjadi lonjakan kasus kasus positif Covid-19 di Korea selatan. Begitu juga negara-negara lain yang mulai melaporkan kasus positif pertamanya, namun ajaibnya itu belum terjadi di indonesia, sampai menjelang akhir bulan indonesia masih menganggap warganya belum ada yang terdampak postif Covid-19. Dan entah apa yang merasuki para pejabat pada waktu itu. Bukannya melakukan serangkaian tes kepada warganya, tapi mereka malah mempromosikan parawisata lewat Buzzer-nya di sosmed dan dana yang di anggarkan sekitar 72M. Inget "M" loh ini.

Engga cuma itu. Pemerintah juga sempat memberikan discount tiket pesawat senilai 30% untuk ke sepuluh destinasi tempat wisata di indonesia yang berlaku sampai Mei 2020. "Kami beri dukungan untuk sepuluh destinasi wisata untuk tidak memungut pajak hotel dan restoran," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, di kutip dari website CNN Indonesia. 

Mulai dari situ keliatan kan. Kesiapan pemerintah dalam memerangi Covid-19 ini bisa dibilang "gagal". Disaat negara lain menyiapkan alat kesehatan atau sosialisasi. Negara kita malah terang-terangan mempromosikan pariwisata demi keuntungan ekonomi. Emang itu engga salah, saya ngerti Bapak-Ibu Pejabat ingin membangun perkekonomian negara, tapi yaa waktu engga tepat Pak-Bu. Jadi, timbulnya kan Bapak-Ibu di kritik sama rakyat akibat blunder kebijakan yang Bapak-Ibu buat sendiri. Hehe.

Setidaknya pada akhir bulan Februari sebagian rakyat indonesia mulai cemas dengan keseriusan pemerintah dalam pencegahan Covid-19. Pada saat itu pemerintah terus mengelak, alasanya agar warga tidak panik. Kenyataanya warga tidak panik sama sekali dengan virusnya, warga hanya panik dengan ketidak-seriusan rencana pemerintah saat itu. Pada saat itu, seolah-olah pemerintah merahasiakan data kasus positif Covid-19 di indonesia. Sampai pada akhirnya pemerintah sadar mereka kecolongan pada bulan berikutnya. 

3.MARET
Di bulan Maret kewaspadaan masyarakat indonesia akan bahaya Covid-19 perlahan mulai sadar setelah melihat sejumlah negara melakukan lockdown. Kesadaran tersebut mulai sampai pada puncaknya. Ketika pada tanggal 2 maret 2020 seorang ibu berusia 61 tahun beserta anaknya, yang bermukim di Depok, kata Pak Terawan, penularan pertama pada pasien berumur 31 tahun, pasien tersebut tertular setelah berdansa dengan WNA asal Jepang pada malam Valentine di sebuah klub di Jakarta. Setelahnya pasien tersebut mengalami gejala batuk berkepanjangan sampai akhirnya positif Covid-19 pada 29 Februari setelah itu ibunya ikut tertular karena sebelumnya sering melakukan kontak fisik padanya.

Yang jadi permasalahan. Si pasien baru tau kalau dirinya positif Covid-19 setelah menerima telepon dari WN Jepang yang berdansa dengannya. Bahwa WN Jepang tersebut telah terpapar Covid-19 setelah melakukan pengecekan di salah satu rumah sakit yang berada di malaysia. Hmm.... Kek ada yang ngeganjel. Tapi apa yaa?

Pertama, Covid-19 yang berada di tubuh si pasien engga teridentifikasi seja awal. Haul itu dijelaskan bahwa si pasien tersebut melakukan perawatan di luar ruang isolasi. Jadi, kalau tidak ada telepon dari WN Jepang, si pasien bakalan lama di luar ruang isolasi.

Kedua, WN Jepang lolos pengcekan di bandara. Dan bisa terbayang si WN Jepang tersebut selama di bandara bersentuhan dengan orang di sekitarnya. Secara praktis, pada saat itu pemerintah belum melakukan sosialisasi pysichal distancing seperti sekarang ini.

Ketiga, si pasien tidak mengetahui kalau gejala-gejala awal Covid-19 mirip seperti gejala penyakit lain yang tentunya sangat berbahaya untuk orang di sekelilingnya. Hal itu bisa dilihat dari ibunya yang ikut tertular Covid-19 setelah ikut merawat si pasien tersebut. Dan selama itu kita tidak mengetahui si pasien berkontak dengan siapa saja sebelum di dirawat di RS. Yang sekaligus menjadi awal dari Covid-19 mewabahi tanah air.

Meski begitu, masih ada seorang pejabat yang masih menyepelekan Covid-19 ini. Pejabat tersebut adalah Pak Mahfud yang menjabat sebagai menteri Koordinator, Politik, Hukum dan Keamanan. Beliau meminta masyarakat untuk tidak panik dan menganggap Covid-19 flu biasa. "Flu biasa itu lebih banyak korbannya yang meninggal," kata Pak Mahfud, di kutip dari situs berita Suara.com. 

Beliau juga sempat menegur bupati Cianjur Herman Suherman yang menyatakan seorang warga berjenis kelamin pria telah meninggal akibat Covid-19. Pak Mahfud mengingatkan agar kepala daerah tidak mengambil tindakan terlebih dahulu, dengan kata lain otoritas sepenuhnya ada di tangan pemerintah pusat saat itu. Setelah Pak Mahfud menyatakan itu, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil membenarkan kematian tersebut di akibatkan Covid-19 dan di pastikan istri beserta anaknya ikut terpapar Covid-19. Namun, Pak Mahfud kali itu tidak bergeming.

Beberapa hari kemudian Pemerintah Indonesia menetapkan Covid-19 sebagai status bencana Nasional non-alam pada 14 Maret 2020. Lalu tiga hari berselang indonesia baru menetapkan masa darurat bencana wabah hingga sampai 29 Mei. 

Jumlah kasus positif Covid-19 tiap harinya terus meningkat sejak pasien pertama diumumkan. Meski begitu Pejabat Pemerintahan tidak ingin mengambil opsi lockdown seperti yang dilakukan di berbagai negara. Menurut Pejabat Pemerintahan kebijakan lockdown "tidak pantas" di terapkan di Indonesia. Agar lebih baiknya kata "tidak pantas" saya ganti dengan kata "tidak ingin". 

Setelah pernyataan itu. Lonjakan kasus positif Covid-19 terjadi di DKI Jakarta. Beberapa hari kemudian Pejabat Pemerintah baru menyerukan untuk masyarakat agar kerja di rumah, Belajar di rumah, jaga jarak, pake masker di luar rumah, cuci tangan setiap menit, serta penutupan tempat wisata dan hiburan di seluruh daerah. Baru dehh, saat itu jalan-jalan disemprotin.

Di bulan ini sebagian masyarakat mulai menuruti anjuran pemerintah untuk selalu #Dirumahaja. Dan sebagiannya lagi masih tetap harus berdagang dan bekerja di tengah bahaya Pandemi Covid-19 ini. Sejak itu juga para pedagang masker dan Hand sanitizer mulai bermunculan di seluruh penjuru sosmed. 

Bulan maret adalah bulan dimana semua kelalaian pejabat pemerintah terkuak. Dimulai dari kekurangan APD, Data yang tidak transparan, melarang kepala daerah untuk melakukan lockdown sepihak, hingga ancaman mogok para dokter dan tenaga kesehatan setelah munculnya korban meninggal akibat penanganan Covid-19 di antara mereka.

Di tengah kondisi seperti itu gelombang PHK mulai bermunculan di sejumlah daerah karena efek dari kebijakan Work From Home. Untuk mengcover mereka yang terkena PHK, pemerintah pusat mempersiapkan Kartu Pra-Kerjanya yang diklaim bisa mengatasi pengangguran akibat Covid-19. Tapi belakangan kartu tersebut menuai banyak kritik dari berbagai lapisan masyarakat.

4. APRIL

Di bulan April lonjakan kasus positif Covid-19 terus bertambah, membuat beberapa kepala daerah mendesak Pemerintah pusat agar mengeluarkan Kebijakan yang tegas untuk menghadapi Covid-19 di indonesia. Kekhawatiran juga tengah dirasakan sebagian masyarakat yang berprofesi sebagai buruh harian, pedagang, serta profesi lainnya yang takut kehilangan pendapatan akibat Covid-19 ini.

Akhirnya pada 10 April Pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) di sejumlah daerah. Sehingga seluruh pintu masuk di wilayah yang diterapkan PSBB dijaga ketat oleh aparat. Serta pemerintah mewajibkan masyarakat untuk selalu menggunakan masker dan melarang kumpulan orang yang berpotensi menyebarkan Covid-19 di daerahnya.

Di bulan april masyarakat mulai gelisah dengan jumlah pasien positif yang kian hari semakin meningkat ketika beberapa hari lagi bulan ramadhan akan tiba. Sementara pemerintah masih labil dengan kebijakan ojek online yang pada waktu itu tidak diperbolehkan membawa penumpang selama PSBB berlaku. Di lain hari aparat sibuk menutup toko/lapak para pedagang yang selama PSBB mereka mengalami penurunan omset.

Setidaknya sampai bulan ramadhan PSBB belum berjalan maksimal seperti yang diharapkan pemerintah. Sebagian masyarakat masih bisa berkeliaran di tempat umum tanpa menggunakan masker. Bahkan di beberapa tempat masih terlihat kerumunan masa. Jadi bisa dikatakan, ada dan tiadanya PSBB seperti tidak ada pengaruhnya saat itu. Hal itu di dukung dengan lonjakan kasus yang masih tinggi di bulan april.

Setidaknya sampai akhir bulan april pemerintah pusat maupun daerah masih sibuk menyiapkan bantuan-bantuan terhadap masyarakat yang terdampak Covid-19. Namun sekali lagi, bantuan tersebut belum bisa dikatakan berhasil. Karena kenyataan di lapangan berkata lain, masih banyak masyarakat yang membutuhkan belum tersalurkan, serta berbagai kendala lainnya.

4. MEI
Di bulan Mei diyakini oleh beberapa ahli sebagai puncak dari penyebaran Covid-19 di indonesia. Keyakinan itu di dukung oleh data perhari kasus positif yang kian menunjukan puncaknya. 

Di bulan ini juga seluruh jawa barat menerapkan PSBB termasuk Kota cirebon. Sejak saat itu Pemkot Cirebon mulai melarang beberapa toko dan mall buka jika melanggar protokol kesehatan. Tidak ketinggalan Pemkot melakukan penyekatan di beberapa pintu masuk kota Cirebon.

Dan saat itu juga gelombang PHK semakin meluas di beberapa daerah. Kemudian pedagang-pedagang kecil mulai kehilangan pendapatan akibat toko mereka dilarang buka saat pelaksanaan PSBB. Tempat ibadahpun ikut terkena imbas PSBB, dimana pemerintah menyarakan agar masyarakat beribadah di rumah selama PSBB di berlakukan.

Tidak cukup sampai disitu. Kekonyolan Pejabat pemerintah di bulan Mei mulai kembali mencuat pada saat pengesahan RUU MINERBA pada tanggal 12 Mei 2020. Disaat semua lapisan masyarakat mengikuti anjuran PSBB, para Bapak-Ibu Dewan malah diem-diem menggelar rapat demi memuluskan jalan para Taipan, ketauan cerdasnya!. Entah kenapa, kalau soal kepentingan para pejabat kerjanya cepet. Tapi kalau soal menyangkut keadilan orang banyak, malah dipersulit birokrasinya. 

Di tengah kondisi yang serba susah ini Pejabat Pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan absurd yang tak semestinya dilakukan saat pandemi Covid-19 ini. Yaitu Pak Yasonna laoly atau panggilan akrabnya Pak Yass selaku Menkumham. Dengan ide "brilian"-nya, beliau mengeluarkan kebijakan asimilasi kepada para napi dengan dalih mencegah penyebaran Covid-19 di penjara-penjara pada awal  Mei. Seperti yang ditebak oleh temen-temen, sebagian napi asimilasi kembali masuk karena kesulitan mencari pekerjaan di tengah pandemi Covid-19 ini. 

Hari demi hari di bulan Mei ketika PSBB tahap pertama akan berakhir, masyarakat mulai gelisah akan ketidakpastian kapan Covid-19 berakhir. Kondisi itu di perparah saat closing ceremony Mcdonald di sarinah, jakarta. Sejumlah masa yang merasa mempunyai kenangan di tempat tersebut, mulai berbondong-bondong meramaikan acara tersebut tanpa melakukan jaga jarak yang dianjurkan pemerintah. Dan tentu saja hal tersebut menuai kritikan dan cacian di kalangan masyarakat yang menaati peraturan PSBB. Tapi anehnya mereka yang datang aman-aman saja tanpa perlu takut dibubarkan oleh aparat, seperti sudah dijamin. Namun belakangan tempat tersebut dikenai denda oleh pemerintah.

Setelah PSBB tahap pertama berakhir. Pemerintah kembali memperpanjang pelaksanaan PSBB tahap kedua di sejumlah daerah yang dikatakan masih masuk zona merah. Namun kini bedanya ada kata imbuhan yaitu”relaksasi” mengacu pada Herd imunity. Yang dimana sejumlah Mall dan moda transportasi umum diperbolehkan beroperasi dengan syarat memenuhi kewajiban protokol kesehatan. Tapi yaa aneh engga sih?.Mall boleh buka tapi toko-toko pedagang kecil engga boleh buka?. Udah gitu tempat ibadah masih tidak di bolehkan buka lagi. Sebenarnya apa sih tujuannya pemerintah?. 

Saya ambil contoh dari kota saya sendiri, di cirebon, tepatnya di CSB mall. Setelah mall tersebut di buka, bisa di lihat, orang-orang kebal Covid-19 langsung meramaikeun tempat tersebut. Yang katanya mall tersebut sudah menerapkan protokol kesehatan. Padahal disitu ada pak satpol, tapi diem-diem bae!, ouh mungkin pak satpol lagi nahan marah kan bulan ini bulan puasa. Maaf ya pak.

Di lain tempat, di PGC tepatnya. Pak satpol lagi asik nutup-nutupin toko yang katanya tidak menaati protokol kesehatan. Yaa ujungnya bisa dil lihat di berita, semua pedagang protes karena merasa tidak adil dengan kebijakan relaksasi PSBB. Sampai pada akhirnya muncul #Indonesiaterserah sebagai bentuk ke kecawaan terhadap pejabat pemerintah yang dinilai gagal serta idak jelas dalam memerangi pandemi Covid-19.

Akhir kata
Memang semua itu sudah berlalu, kini kita seharusnya fokus menyelesaikan permasalahan yang tengah kita alami bersama saat ini, ketimbang berkutat pada permasalahan lalu saat awal-awal Covid-19 muncul di tanah air. Tapi gunanya pelajaran sejarah di sekolah adalah untuk di pelajari, bukan untuk di abaikan apalagi di lupakan. Kita yang sekarang adalah hasil kita dari perbuatan kita yang dulu, kekacauan sekarang adalah hasil perbuatn pejabat kita yang dulu, dan pejabat kita yang sekarang adalah hasil dari pilpres kita yang dulu. Sampai kapan kita harus terus mengulangi kesalahan-kesalahan kita yang sama?.Ibu pertiwi sedang menangis melihat tingkah kita dan para pejabat saat ini. Dan selamanya akan menangis jika kita dan para pejabat masih berkutat pada kesalahan yang sama.

Tapi, tidak ada kata tidak bisa. Semuanya bisa kembali normal seperti sedia kala. Dengan catatan kita harus bisa bersatu dan bersama-sama membantu teman kita para relawan atau tenaga kesehatan untuk melawan pandemi Covid-19 ini. Tentunya dengan cara yang mudah kita lakukan yaitu diam di rumah untuk sementara waktu atau menjauhi kerumunan masa di tempat-tempat umum jika memang terpaksa keluar rumah.

Terakhir dan yang paling utama adalah sebisa mungkin agar selalu mengkritik kinerja para pejabat pemerintahan, jika kebijakan mereka keluar dari kepentingan rakyat atau jauh dari azas keadilan. Jangan takut jika benar, takutlah jika dirimu tidak bisa bersuara,  sementara saudara mu di lain tempat sedang tidak diperlakukan dengan adil oleh para pejabat oligarki.

Sumber

Popular Posts